MD8.OR.ID - Dalam ruang domestik masyarakat modern, asap bukan sekadar residu pembakaran. Ia adalah pesan, identitas, dan terkadang, sebuah standar ganda yang menggelitik nalar.
Fenomena menarik muncul ketika kita membandingkan dua batang benda yang sama-sama dibakar: obat nyamuk bakar dan dupa (hio/kemenyan). Satunya adalah instrumen "pembasmi", sementara yang lain adalah instrumen "kontemplasi".
Legitimasi dalam Lingkaran Racun
Cukup mudah menemukan logo Halal dari MUI pada kotak obat nyamuk bakar di supermarket. Secara hukum fikih, ini masuk akal; bahan bakunya dipastikan bebas dari unsur babi atau zat najis, sehingga konsumen merasa aman menggunakannya.
Namun, jika kita melihat dari sisi filosofis, ada ironi yang pekat. Obat nyamuk dibakar dengan satu tujuan absolut: menghilangkan nyawa. Ia adalah senjata kimia yang bertujuan menciptakan kenyamanan manusia di atas kematian makhluk lain.
Di sini, label "Halal" seolah memberi restu pada sebuah tindakan destruktif terhadap ekosistem kecil demi kepentingan ego manusiawi. Asapnya yang menyesakkan paru-paru dianggap sebagai "asap yang benar" karena alasan fungsional.
Stigma di Balik Wangi Spiritual
Berseberangan dengan itu, kita melihat nasib dupa atau kemenyan. Di banyak sudut nusantara, membakar dupa adalah jembatan menuju ketenangan (zen), pengantar doa, atau sekadar aroma terapi untuk menjernihkan pikiran yang kusut. Tidak ada nyawa yang diincar, tidak ada racun yang disebar.
Namun, sering kali asap wangi ini justru disambut dengan tuduhan miring. Kata-kata seperti "syirik", "tahayul", atau "pemanggil setan" kerap terlontar sebelum aromanya sempat terhirup dalam-dalam. Mengapa sebuah praktik yang bertujuan mencari kedamaian batin dan koneksi spiritual dianggap lebih berbahaya daripada asap yang dirancang untuk membunuh?
Paradoks Persepsi: Fungsi vs Ritual
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masyarakat kita terkadang lebih mementingkan label formal daripada substansi niat.
Obat Nyamuk dianggap "aman" secara sosial karena ia masuk dalam kategori komoditas ekonomi dan kebutuhan medis.
Dupa dianggap "mengancam" karena ia masuk dalam wilayah mistis dan ritual yang tidak semua orang mau memahaminya secara terbuka.
Kita berada di fase di mana racun yang mematikan diterima dengan tangan terbuka asalkan bersertifikat, sementara wangi-wangian yang menghidupkan rasa justru dicurigai jika tidak masuk dalam kotak logika mayoritas.
Menimbang Kembali Makna "Suci"
Jika standar "halal" hanya berhenti pada bahan baku, maka obat nyamuk telah memenuhi syarat. Namun, jika kita bicara tentang kebermanfaatan dan kasih sayang terhadap alam, bukankah dupa yang membawa ketenangan semestinya memiliki kedudukan yang lebih terhormat daripada racun yang membasmi?
Pada akhirnya, "pie" atau bagaimana kita memandangnya kembali kepada kejernihan hati masing-masing. Apakah kita lebih takut pada nyamuk yang mengisap darah, atau pada pikiran sempit yang mengisap toleransi dan kedamaian spiritual kita sendiri?
Batas Membaca Gratis Tercapai
Anda telah membaca 3 artikel gratis bulan ini. Dukung jurnalisme berkualitas dengan berlangganan.
Langganan Sekarang
.jpg)

0 Comments