Menjaga Marwah di Persimpangan Zaman: Gugatan Terhadap Hilangnya Estafet Ilmu Mangqul

Gambar dihasilkan Ilustrasi dari Gemini | Desainer Mata Dunia Delapan |

Oleh: Redaksi Tim Jurnalistik Independen

Di lorong-lorong waktu sejarah, nama KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis bukan sekadar nama. Beliau adalah simbol keteguhan, pembawa sanad, dan penjaga kemurnian Ilmu Mangqul. Namun, belakangan ini, kegelisahan mulai menyeruak di kalangan akar rumput, khususnya para Mubaligh dan Mubalighot. Ada sebuah kekhawatiran yang nyata: bahwa warisan sejarah dan spiritualitas yang dulu dijaga dengan darah dan keringat, kini perlahan mulai "senyap" di bawah kendali birokrasi organisasi.

Jarak yang Terbentang: Antara DPP LDII dan Sesepuh

Kritik tajam kini mengarah pada pucuk pimpinan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII. Kurangnya pendekatan emosional dan spiritual antara kepemimpinan Ir. Kriswanto Santoso, M.Sc terhadap para Sesepuh peninggalan masa KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis menjadi sorotan utama.

Para Sesepuh ini adalah perpustakaan hidup. Mereka memegang memori kolektif dan kemurnian ilmu yang didapat secara musyafahah (tatap muka langsung). Ketika ruang sharing ilmu dan sejarah mulai menyempit, yang tersisa hanyalah instruksi administratif yang kering akan nilai-nilai historis.

Sejarah bukan hanya untuk diingat, tapi untuk dihidupi. Jika koneksi dengan para pemegang sanad terputus, maka kita sedang menuju amnesia sejarah.

Ancaman "Senyap" Marwah Sejarah

Kekhawatiran akan hilangnya Marwah Histori KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis bukanlah isapan jempol. Fenomena "Maklumat" dan "Boikot" terhadap mereka yang vokal menyuarakan pelestarian sejarah murni dianggap sebagai sinyalemen adanya perpecahan internal.

Muncul dugaan adanya oknum di jajaran pengurus pusat termasuk tudingan terhadap pihak-pihak tertentu di struktur DPP yang justru tidak memprioritaskan pelestarian Ilmu Mangqul. Ketidakpahaman ini berdampak fatal: peminggiran terhadap kader-kader yang dianggap terlalu "tradisional" namun sebenarnya merupakan penjaga gawang kemurnian ilmu.

Seruan bagi Mubaligh dan Mubalighot: Jangan Lengah!

Artikel ini menjadi pengingat keras bagi para Mubaligh dan Mubalighot di seluruh penjuru. Di pundak kalianlah, Ilmu Mangqul yang utuh disandarkan. Jangan sampai narasi-narasi baru yang dibawa oleh "oknum penyusup" merusak tatanan sejarah yang telah mapan.

Ada indikasi bahwa ketidakmampuan pemimpin dalam mengapresiasi sejarah adalah celah bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak organisasi dari dalam. Jika Ilmu Mangqul tidak lagi dianggap sebagai pilar utama oleh pemimpinnya sendiri, maka kehancuran nilai tinggal menunggu waktu.

Analisis Dampak: Bibit Perpecahan

  • Masalah Utama:  Dampak Bagi Jamaah 
  • Erosi Ilmu Mangqul: Hilangnya kepercayaan terhadap otoritas ilmu yang murni. 
  • Kesenjangan DPP & Sesepuh: Terputusnya regenerasi nilai-nilai perjuangan pendiri. 
  • Politik Boikot & Maklumat: Munculnya rasa takut dan bungkamnya kebenaran sejarah. 
  • Oknum Penyusup: Kerusakan struktur internal dan ideologi secara perlahan. 

Kesimpulan: Memperkuat Akar untuk Menjaga Pohon

Menjaga warisan KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis adalah tugas kolektif. Menjadi modern bukan berarti harus mencabut akar sejarah. Ir. Kriswanto Santoso, M.Sc dan jajaran DPP LDII perlu melakukan refleksi mendalam: apakah organisasi ini masih berjalan di atas rel ilmu yang diwariskan, ataukah sudah beralih menjadi sekadar korporasi birokrasi yang kehilangan jiwa?

Jangan biarkan Ilmu Mangqul menjadi sejarah yang sayup-sayup terdengar lalu menghilang. Mari kembali ke khitah, rangkul para Sesepuh, dan bersihkan barisan dari oknum yang ingin memutus rantai sanad ini.

Salam Bhineka Tunggal Ika. Jaga Ilmu, Jaga Sejarah, Jaga Persatuan.

0 Comments