Menyusuri Lorong Waktu di Rumah Priyayi 1811: Saksi Bisu Kejayaan Islam dan Tuan Tanah Jombang


JOMBANG - Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang terus bergerak cepat, Jalan Sumber Boto No. 177, Prangetan, Mojoduwur, seolah memiliki zona waktunya sendiri. Di sanalah, waktu terasa berjalan lebih lambat. Sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh sejak era kolonial, tepatnya tahun 1811, masih menatap dunia dengan gagah.


Bangunan ini bukan sekadar tumpukan bata kuno dan semen, melainkan sebuah monumen hidup bernama "Rumah Priyayi Kaum Bumiputera". Selama lebih dari dua abad, rumah ini telah menjadi saksi bisu pasang surut sejarah di Mojowarno, Jombang, merekam jejak kehidupan kaum ningrat Jawa yang berbalut napas keislaman.


Jejak Kemegahan Masa Silam


Memasuki pelataran rumah, arsitektur klasik tahun 1800-an langsung menyapa siapa saja yang datang. Aura masa silam terasa begitu kental, membawa imajinasi pengunjung kembali ke masa ketika rumah ini menjadi pusat denyut nadi sosial dan ekonomi di wilayah tersebut.


Dahulu, bangunan megah ini adalah kediaman Mak Al Suntikah. Beliau bukan sosok sembarangan, melainkan istri pertama dari tokoh besar KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis, seorang figur sentral dalam penyebaran agama di kawasan tersebut. Status sosial penghuninya tercermin jelas dari struktur bangunan yang bertahan melintasi zaman.


Sejarah mencatat, leluhur keluarga ini—yang akrab disebut "Mbah Buyut"—adalah simbol kemakmuran priyayi Jawa pada masanya. Ia dikenal sebagai tuan tanah yang disegani, dengan kekayaan agraris yang luar biasa. Aset berupa puluhan hektar sawah yang membentang dan ratusan ekor sapi menjadikan rumah ini pernah menjadi poros kekuatan ekonomi masyarakat setempat.




Sang Penjaga Amanah


Kini, dua abad berlalu, estafet kepemilikan dan penjagaan rumah bersejarah ini berada di tangan H. Idrus Tubaji. H. Idrus adalah pewaris sah yang memiliki garis darah unik dan dekat dengan pemilik aslinya. Ia merupakan keponakan dari Mak Al Suntikah, lahir dari rahim H. Ibu Murni, putri dari H. Fadli.


Bagi H. Idrus, menempati rumah ini bukan sekadar soal tempat berteduh. Ia memikul tanggung jawab moral untuk merawat memori kejayaan keluarga yang pernah menjadi pilar ekonomi dan sosial di Jombang.


"Mbah Buyut dulu orang yang sangat terpandang," ungkap H. Idrus, matanya menerawang seolah menembus dinding waktu ke masa lalu.


Ia menceritakan kembali kejayaan leluhurnya bukan untuk membual, melainkan untuk menegaskan identitas dan sejarah yang melekat pada dinding-dinding tebal rumah tersebut.


Rumah nampak belakang samping kanan



Melestarikan Memori


Keberadaan H. Idrus di rumah ini memastikan bahwa narasi tentang keluarga priyayi yang taat agama dan kaya raya ini tidak terkubur oleh zaman. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang gemilang dengan masa kini. "Rumah ini adalah amanah," ujarnya tegas.


Di balik dinding tebal rumah tahun 1811 ini, kisah tentang kemakmuran, keteguhan agama, dan tradisi priyayi masih hidup dan bernapas. Melalui H. Idrus Tubaji, Rumah Priyayi Kaum Bumiputera di Mojoduwur tetap berdiri lestari, menjaga marwah keluarga besar yang telah berkontribusi bagi masyarakat Mojowarno selama bergenerasi.


0 Comments