Tulungagung-Menjelang Hari Raya Iduladha, tradisi pengumpulan iuran kurban di sejumlah sekolah tingkat SMP kembali menjadi perhatian masyarakat. Program yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu umumnya bertujuan menanamkan nilai keagamaan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong kepada para siswa sejak dini.
Melalui iuran dengan nominal tertentu, para siswa diajak ikut berpartisipasi dalam pembelian hewan kurban yang kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Banyak pihak menilai kegiatan tersebut memiliki nilai positif karena mengajarkan arti berbagi dan pengorbanan.
Namun di balik tujuan baik tersebut, muncul pertanyaan kritis dari sebagian wali murid dan pemerhati pendidikan mengenai mekanisme penarikan dana kepada siswa. Terlebih, kondisi ekonomi setiap keluarga tidak sama.
Dalam pandangan agama, kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Nilai utama dari kurban bukan terletak pada besar kecilnya nominal, melainkan keikhlasan dan kemampuan seseorang. Karena itu, sejumlah tokoh masyarakat menilai pendidikan tentang kurban seharusnya tidak berubah menjadi tekanan sosial bagi siswa maupun orang tua.
“Kalau sifatnya sukarela dan mendidik tentu baik. Tetapi jika sampai menimbulkan rasa malu bagi siswa yang tidak mampu, maka nilai sosial dan nilai ibadahnya perlu dievaluasi,” ujar salah satu tokoh pendidikan.
Di sisi lain, pihak sekolah umumnya memiliki niat positif agar siswa belajar peduli terhadap sesama dan memahami makna berbagi sejak usia dini. Bahkan beberapa sekolah menerapkan konsep tabungan kurban atau gotong royong agar nominal tidak terasa berat.
Meski demikian, transparansi dan musyawarah dinilai menjadi hal penting dalam setiap bentuk pengumpulan dana di lingkungan pendidikan. Program sosial yang baik seharusnya tetap mempertimbangkan aspek psikologis siswa, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Secara agama, mengajarkan sedekah dan kurban sejak dini tentu memiliki nilai baik. Namun jika pelaksanaannya menimbulkan keterpaksaan, perbandingan sosial, atau beban ekonomi, maka esensi keikhlasan dalam ibadah dikhawatirkan justru berkurang.
Karena itu, banyak pihak berharap kegiatan kurban pelajar tetap dijalankan dengan pendekatan yang lebih bijak dan manusiawi. Misalnya dengan sistem donasi sukarela, subsidi silang, atau membuka ruang partisipasi nonmateri bagi siswa yang tidak mampu.
Pendidikan sejatinya bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga empati. Sebab makna terbesar dari kurban bukan sekadar mengumpulkan uang, melainkan memahami arti berbagi tanpa memberatkan sesama.


0 Comments