![]() |
| Gambar ilustrasi karya personal jurnalis : Krisis Literasi Sejarah dan Degradasi Marwah Juru Kunci. |
Realita Otentik: Kabut di Situs Sitinggil, Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto. Krisis Literasi Sejarah dan Degradasi Marwah Juru Kunci.
Tanah yang Berbisik, Manusia yang Tuli
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Trowulan saat kepulan asap kemenyan mulai menari di antara sela-sela bata merah kuno Sitinggil. Di sinilah, konon, Raden Wijaya memijakkan kakinya sebelum Mahapatih Gajah Mada menggetarkan Nusantara dengan Sumpah Palapa. Tanah ini bukan sekadar tumpukan tanah ia adalah Sitinggil Tanah Tinggi manifestasi legitimasi kekuasaan Majapahit yang sakral.
Namun, belakangan ini, ada yang terasa "sumbang" di balik gerbangnya.
Kesakralan itu kini tampak terhimpit oleh apa yang saya sebut sebagai "Titah Tunggal". Seorang Juru Kunci, yang seharusnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, justru kerap terjebak dalam narasi personal yang memutus rantai transmisi sejarah yang autentik. Bayangkan seorang nakhoda yang memegang kompas rusak ia merasa memimpin penumpang menuju pelabuhan, padahal ia sedang membawa mereka menabrak karang.
Bejijong dan Memori yang Terkikis
Masyarakat Bejijong pada masa itu bukanlah masyarakat yang melakukan ritual tanpa dasar. Adat dan budaya yang terbentuk di wilayah ini adalah hasil sinkretisme tinggi antara spiritualitas dan tata krama kenegaraan. Sejarah Sitinggil adalah sejarah tentang protokol, etika, dan penghormatan terhadap leluhur yang membangun fondasi bangsa ini.
Masalah muncul ketika "Juru Kunci" dipilih hanya berdasarkan garis keturunan atau kedekatan tanpa melewati gerbang Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang mumpuni. Akibatnya? Pengunjung yang datang untuk melakukan ritual justru disuguhi narasi yang menyesatkan. Ketika sejarah adat yang sudah ditentukan oleh para tetua dan catatan naskah kuno dikesampingkan demi "bisikan" personal, di situlah kerusakan dimulai.
Sejarah yang dipalsukan di tempat sakral bukan hanya dosa budaya, tapi pengkhianatan terhadap ideologi bangsa.
Surat Terbuka untuk Pemegang Mandat (Teguran)
Kepada Yth. Perangkat Desa Bejijong, Camat Trowulan, dan Dinas Kebudayaan Mojokerto:
Trowulan bukan sekadar aset wisata untuk mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD). Siti Inggil adalah jantung sejarah Indonesia. Saat ini, terdapat kekosongan pengawasan yang berbahaya terhadap sosok-sosok yang ditunjuk menjaga situs ini.
- Untuk Perangkat Desa & Kepala Desa adalah benteng pertama. Membiarkan seseorang menjadi Juru Kunci tanpa pemahaman sejarah Bejijong yang utuh adalah tindakan pembiaran terhadap perusakan mental pengunjung. Jabatan Juru Kunci bukan sekadar "penjaga pintu", melainkan edukator kultural.
- Untuk Camat Trowulan bagaimana mungkin posisi sepenting ini tidak memiliki standarisasi? Ketiadaan Diklat formal bagi calon Juru Kunci adalah kelalaian administratif yang berdampak pada distorsi sejarah nasional.
- Dampak Luas jika pengunjung masuk dan membawa pulang pemahaman yang sesat tentang Majapahit karena arahan Juru Kunci yang tidak kompeten, maka kita sedang merusak jati diri bangsa Indonesia dari akarnya. Indonesia dibangun di atas sejarah Majapahit; merusaknya sama dengan merusak fondasi negara.
Storytelling "Tragedi Sang Penunjuk Jalan"
Mari kita bayangkan seorang peziarah dari luar pulau. Ia datang membawa harapan dan rasa hormat pada kebesaran Majapahit. Ia bertemu dengan sang Juru Kunci yang, karena tidak pernah dibekali literasi sejarah adat yang benar, memberikan instruksi ritual yang menyimpang dari pakem asli Bejijong.
"Lakukan ini, ucapkan itu," ujar sang penjaga dengan otoritas penuh namun kosong isi.
Peziarah itu pulang, menyebarkan "kebenaran baru" yang salah kepada komunitasnya. Ribuan orang melakukan hal yang sama. Dalam sepuluh tahun, sejarah asli Sitinggil terkubur bukan oleh tanah, tapi oleh narasi palsu. Inilah yang disebut sebagai cultural gaslighting. Juru kunci tersebut tidak lagi menjaga situs, ia sedang membangun "kerajaan kecil" dalam kepalanya sendiri yang bertentangan dengan fakta sejarah Nusantara.
Tanpa adanya sistem seleksi dan pelatihan yang ketat, jabatan Juru Kunci di Sitinggil kini berisiko menjadi sumber kesesatan kolektif. Kesakralan tidak boleh dikalahkan oleh ego individu yang merasa paling tahu tanpa pernah mau belajar.
Sitinggil adalah cermin. Jika cerminnya buram karena tangan-tangan yang tak kompeten, maka wajah bangsa ini pun akan terlihat cacat. Kita tidak butuh sekadar "penunggu" makam atau petilasan kita butuh penjaga nilai.
Jika para pemangku kebijakan di Mojokerto mulai dari tingkat desa hingga kecamatan masih diam dan menganggap posisi Juru Kunci sebagai hal sepele, maka bersiaplah melihat sejarah Majapahit hanya menjadi legenda mistis yang menyesatkan, bukan lagi sumber inspirasi kenegaraan.
Berhenti menjadikan situs suci sebagai panggung drama pribadi. Kembali ke sejarah pada masa itu sesua adat budaya kala itu yang asli, atau biarkan gerbang itu tertutup selamanya daripada terbuka untuk menyesatkan bangsa?.
Apakah Anda ingin saya menyusun draf surat permohonan resmi untuk pengadaan program Diklat Juru Kunci yang bisa diajukan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Mojokerto?


0 Comments