![]() |
| Gambar ilustrasi Wajah Pemimpin di Balik Meja Makan bersama istri dan anak |
Di bawah atap genting yang bocor tipis, sebuah drama sunyi dimainkan setiap malam. Seorang lelaki, yang kita panggil Bapak, duduk di pojok meja makan. Di depannya, piringnya bersih, hanya menyisakan bayangan lampu minyak. Di hadapannya, istri dan anak-anaknya makan dengan lahap, tak menyadari bahwa lauk terakhir telah berpindah ke piring mereka atas perintah halus sang bapak: "Habiskan, Bapak masih kenyang."
Inilah politik paling jujur di muka bumi: Diplomasi Piring Kosong. Sebuah realita otentik tentang tanggung jawab yang melampaui logika perut sendiri.
Rumah Tangga: Miniatur Negara yang Tak Pernah Tidur
Rumah adalah sebuah negara kecil. Jika bapak adalah Pemimpin Negara, maka ibu adalah Menteri Dalam Negeri sekaligus Panglima Perlindungan Anak. Tugas mereka bukan sekadar memberi makan, tapi memastikan "rakyat" kecil mereka merasa aman di bawah perlindungan konstitusi kasih sayang.
Seorang ibu dalam rumah tangga memegang mandat suci. Ia adalah benteng pertama yang melindungi anak-anaknya dari badai dunia luar. Ia bukan hanya membimbing dengan kata-kata, tapi dengan perilaku dan perbuatan. Di tangan ibu, anak belajar bahwa kebenaran bukan untuk dihafal, tapi untuk dilakukan. Jika ibu goyah dalam tanggung jawabnya, maka robohlah fondasi moral bangsa masa depan.
Namun, beban terberat tetap ada di pundak sang Bapak. Sebagai pemegang otoritas tertinggi, ia memiliki kewajiban absolut untuk memastikan isi perut rakyatnya (istri dan anak) kenyang, nyaman, dan damai.
Sanepan: Perut Pemimpin yang Keroncongan
Mari kita bawa drama piring kosong ini ke gedung-gedung tinggi di Jakarta. Seharusnya, negara ini dikelola dengan nurani seorang Bapak.
Dalam sanepan (perlambangan) Jawa, pemimpin sejati adalah ia yang “tangi dhisik dhewé, turu keri dhewé” (bangun paling awal, tidur paling akhir). Dalam konteks Indonesia:
- Para Pemimpin: Seharusnya menjadi "Bapak" yang memastikan tidak ada rakyatnya yang tidur dalam kelaparan. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang gelisah saat rakyatnya mengantre beras, dan merasa kenyang hanya saat melihat rakyatnya sejahtera.
- DPR: Mereka adalah penyambung lidah, layaknya seorang ibu yang memahami setiap rintihan kebutuhan anaknya. Mereka seharusnya menjadi pengawas yang memastikan "dapur" negara tetap mengepul untuk semua, bukan hanya untuk kelompoknya sendiri.
- TNI dan POLRI: Mereka adalah pagar rumah. Peran mereka adalah memastikan kenyamanan dan kedamaian tanpa harus menindas yang di dalam. Mereka melayani dengan poksi (tugas pokok dan fungsi) sebagai pelindung, bukan penguasa atas rasa takut.
Apa yang terjadi jika "Bapak" di pemerintahan justru memakan porsi rakyatnya? Apa yang terjadi jika "Ibu" di parlemen justru sibuk bersolek saat anaknya (rakyat) menangis karena ketidakadilan? Maka negara itu sedang menuju kebangkrutan moral.
Etika Melayani: Antara Kasih Sayang dan Kewajiban
Seorang bapak yang membiarkan perutnya kosong demi anak istri bukanlah pahlawan yang ingin dipuji; ia hanyalah orang yang tahu diri akan tugasnya. Inilah yang hilang dari wajah birokrasi kita: Rasa Tahu Diri.
Dalam rumah tangga yang sehat, kasih sayang adalah bahan bakar, dan tanggung jawab adalah kemudinya. Seorang bapak memberikan perlindungan bukan karena ia merasa kuat, tapi karena ia tahu ia adalah sandaran. Begitu pula seharusnya polisi dan tentara kita; mereka berdiri tegak di perbatasan dan di perempatan jalan bukan untuk menunjukkan bedil, tapi untuk memastikan anak-anak bisa berangkat sekolah dengan senyum.
Tanggung jawab otentik tidak butuh tepuk tangan. Ia terlihat dalam senyap. Ia ada pada tangan ibu yang kasar karena mencuci, pada pundak bapak yang legam terpanggang matahari, dan pada pemimpin negara yang tak bisa tidur nyenyak jika harga pangan tak terjangkau rakyat jelata.
Mengembalikan Hakikat "Melayani"
Kita butuh kembalinya jiwa "Bapak" dan "Ibu" dalam kepemimpinan nasional. Sebuah kepemimpinan yang memandang rakyat bukan sebagai angka statistik pemilu, tapi sebagai anak-anak kandung pertiwi yang harus diberi rasa nyaman dan damai.
Jika seorang bapak di pelosok desa mampu mengutamakan isi perut keluarganya meski ia sendiri belum makan, mengapa mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan begitu sulit untuk sekadar mendengarkan?
Negara ini akan kuat jika setiap elemen dari Presiden hingga Ketua RT, dari Jenderal hingga Bintara bekerja sesuai poksi dengan bumbu kasih sayang. Tanpa itu, pembangunan hanyalah tumpukan semen yang dingin, tanpa nyawa dan tanpa cinta.
Biarlah piring kosong sang Bapak menjadi pengingat abadi: bahwa kehormatan tertinggi seorang pemimpin adalah saat ia mampu memberikan kenyamanan bagi mereka yang ia cintai, meski ia harus menanggung perihnya pengorbanan sendiri.
Penulis Oleh: Cak Lubis Prapanca


0 Comments